Reruntuhan Gelap
Monday, November 23, 2009Aku harap kamu tidak tuli saat ini. Rerumputan biru tengah membisikkan rindu laut pada daun gugur. Memeram bintang dalam gelisahnya malam. Memendam bulan dalam lubuk jiwa paling dalam.
Kita berada tepat di tengah padang-padang doa. Tempat dimana kata-kata menggumpal bagai awan. Dan sedikit cahaya untuk membuat keajaiban buat sang pendoa. Namun, percayalah! Hal itu jarang sekali terjadi. Karena kata-kata menjadi sosok paling egois di padang ini.
Kudengar engkau lahir dari sepi dan gugur daun? Benarkah? Dimana udara pagi membuatmu selalu rindu dalam teduh serta hangat rimba-rimba liar. Menari-nari menanti angin selatan berdesir bersama alunan kasidah hujan. Hingga sekujur tubuhku menderaskan keringat matahari musim kedua.
Aku mengantarkan seorang perempuan yang tersesat dalam padang. Dimana reruntuhan gelap ditinggalkan kata-kata. Engkau menengadah ke udara, dan di kejauhan kulihat bisik rerumputan jadi hijau. Berubah kembali berwarna biru. Lalu hujan kata-kata turun dan membuatnya semakin gelap.
“Aku tengah mencari doa, yang aku kirim dua abad silam.” Katamu.
Waktu, tiba-tiba diam dalam raung tangismu. Bunga-bunga mengalirkan darah dan menggariskan sesal dalam dinding hatiku. Tubuhmu rebah dalam semak, tanganmu erat menggengam kelopak mimpi. Disinilah. Ya! Tepat dalam kanvas tangismua inilah, hendak kugoreskan sebuah pelangi. Selain laut dan biru ajalku.
Kubawa jasadmu berlari. Melawan angin tanpa musim, dimana kata-kata menghilang dan engan keluar dari reruntuhan. Lewat angin itu kubaca sekali lagi peta jiwamu, yang bertiup siang malam menghubungkan semua persinggahan dalam hati. Biarlah kubangun sendiri trotoar dan jembatan, tempat kulangkahkan kaki dalam rimba dinding-dinding doa.
“Tolong. Tolong. Tolong bawa aku menemui doa itu? Biarkan aku bertemu dengannya sekali dalam sisa matiku.”
“Perempuan tolol.” Pikirku.
Kusaksikan pagi itu—setelah kau bangun dari pingsan panjangmu—ladang kering dalam ruang nir-rasio. Kaum homosphia jelmaan kata-kata yang selalu berdebat tentang doa-doa yang mereka kuburkan di bawah pohom apel. Wajahmu masih berkaca-kaca, ketika kutelusuri semak-semak bambu berduri, dan matamu kini menjelma lapisan-lapisan semesta yang selalu ingin kudengar.
Suaramu mengisi tangisku. Seperti riam yang selalu tersedu melihat kesetiaan batu-batu. Samar kulihat juga retak-retak air mukamu. Seperti sebuah kolam air hangat, yang siap kuterjuni. Sementara alismu, tipis serta sedih dalam gelombang yang diamuk badai. Suaramu satu-satunya cahaya dalam reruntuhan ini, yang membuatku ingin menziarahi sekali lagi benua-benua.
Karena dirimulah, aku jelajahi samudera dan hutan. Hendak kuterjemahkan sendiri makna kabut untukmu. Pada jalan-jalan penuh tikungan, juga daun dan angin. Pada jalan lurus yang menanjak. Aku teringat rimbunnya bunga terompet warna unggu di belakang rumahmu. Dimana waktu itu, kuterjemahkan airmatamu lewat sajadah di seperempat pagi. Betapa perih bunga itu saat melewati tahun kali ini.
Kau pun mulai menapaki jalan penuh duri yang tersisa. Melewati reruntuhan gelap dengan bangunan-bangunan berlumut yang membekukan jiwa para peziarah. Hanya suara burung di balik bukit yang menjadi teman, mengawal langkahmu di bawah tatapan curiga bintang-bintang.
Di sebuah sungai dari mata air embun dan tak akan pernah kering, kau beristirah. Membasuh keletihan pada kedua kakimu. Begitu dalam tatapan itu. Seperti tengah mengisahkan cerita tentang peradaban paling tua. Mereka ulang isyarat tentang Adam dan Hawa yang terbuang di sebuah benua yang ditenggelamkan.
Tatapanmu menyimpan gelora ribuan lukisan senja yang cemas. Sementara gerimis turun dalam rambutmu yang terurai. Lalu basah. Ada samudera mengendap diam di ubun-ubun. Aku kayuh sampan kecil melewati rawa dimana kau kubur jejakmu.
“Tinggalkan diriku sendiri.” Suaramu gemetar.
Aku tahu. Kesedihanmu tak akan bisa padam meski harus merendamnya dengan air dua samudera. Kematian adalah kelahirannya dalam dunia yang beda. Seperti hendak memasuki kembali taman-taman yang pernah kita rancang pada masa kanak-kanak.
“Tapi dia anakku. Lahir dari sempalan hati. Sebuah kesedihan abadi. Tidak adil, karena dia mahkluk kecil yang suci.” Bantahmu.
“Lepaskan aku. Biar kucari sendiri kata-kata dalam ladang ini. Setiap hari, ketika dedaunan menghitung kembali musim. Aku syairkan doa di tengah kesunyian. Biarkan anak itu kelak tumbuh sebagai seorang priyayi. Bukan seperti diriku, yang selalu menghitung pijak-pijak hujan di sepanjang gang.”
Lupakan masa lalumu. Doamu saat, ini menjadi sosok paling buas di belantara hutan ini. Menjadi mimpi buruk jiwa yang gelisah. “Seperti dirimu sekarang,” kataku keras-keras, tepat disamping telinga. Akhirnya kau pun terpekur. Menyairkan lagi bait-bait tentang rasa kehilangan. Reruntuhan gelap. Dimana sepi menjadi satu-satunya cahaya yang membuatmu selalu merindukan kehilangan.
Hanya aku satu-satunya orang yang selalu mencintaimu. Aku rela menukar perasaan nikmat dengan gelisahmu. Memotong kedua kakiku hanya untuk bisa membawa pergi bangkaimu. Biarkan aku mendekap kesunyianmu. Sebelum aku membakar tubuh tak berguna ini.
Lupakan doa-doa itu. Kata-kata telah menjadi hujan pada siang yang terik. Kau tak akan pernah menemukan lagi kata-kata itu. Doa untuk anak perempuanmu. Doa untuk darah harammu. Tenanglah kamu dalam lindap kabut di pagi hari. Dengarkan lagu dari ranting dan burung-burung.
Akhirnya kau pun tersedu. Di bawah gelap bayang-bayangmu sendiri, kau teteskan air mata yang bercahaya. Kembali kematian sampai pada dingin bebatuan. Melambaikan biru pada gerimis. Langit makin menjauh, angin berhembus mengantar wewangian. Kau berlari girang ke dalam senja. Karena kau tahu, anak perempuanmu kini menggirimkan sebait kata pada ladang doa. Hendak kau tempuh pulang, perjalanan menuju reruntuhan cahaya.
Yogyakarta, Juni 2008
Eka Budianta, Puisi dan Pengkhotbah Kiamat
Friday, November 20, 2009
“Menjadi penyair berarti tidak tinggal diam, melainkan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, merasakannya, berpikir bersama, untuk dan tentang masyarakat."
Perkataan itu diucapkan oleh seorang penyair sekaligus pemerhati lingkungan dan sosial, dialah Eka Budianta. Eka adalah sosok yang tak pernah bisa tinggal diam melihat perubahan alam di negaranya yang semakin tak terkendali, hal ini menurutnya, terjadi karena kesadaran sosial masyarakatnya yang kurang ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
Eka Budianta lahir di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Eka merupakan penyair, penulis cerpen, penulis esai tentang sosial budaya, serta aktivis sosial dan lingkungan. Mengawali karirnya di dunia tulis menulis ketika menjadi wartawan Tempo, harian Jepang Yomiuri, dan Radio BBC World Service di Inggris. Eka juga telah lulus Program Lingkungan dan Pembangunan (Leadership for Environment and Development) dengan kerja lapangan di Costa Rica, Amerika Tengah (1995), Ikonawa, Jepang (1996) dan Zimbabwe (1997).
Ketika menjadi Direktur Eksekutif Dana Mitra Lingkungan (1994-1998), ia berperan besar bagi pendalaman bersama perspektif ‘lingkungan berkelanjutan’ pada jaringan LSM dan kalangan industriawan Indonesia. Sejak tahun 1999 ia menjabat menjadi direktur urusan sosial untuk PT Tirta Investama, induk perusahaan air mineral Aqua-Danone, salah satu kegiatannya adalah mengembangkan taman konservasi untuk industri berbasis sumber alam. Disamping sibuk sebagai penceramah dan menangani isu-isu seputar sosial dan lingkungan, ia tetap berkarya, paling tidak sudah dua-ribuan karyanya (puisi, cerita pendek, esai, laporan perjalanan) selama 25 tahun terakhir masa berkaryanya.
Namanya mulai menonjol dalam dunia sastra, ketika pada tahun 1978 tampil sebagai peserta forum puisi ASEAN, bersama sekitar 50 penyair terkemuka dari negara-negara anggota ASEAN. Dalam acara tersebut ia adalah peserta paling muda, meskipun sudah menelorkan 3 buku kumpulan puisi.
Eka memang dikenal sebagai penyair. Pada 1979 ia memimpin delegasi Indonesia ke pesta Puisi dan Akademi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Sedangkan pada tahun 1983 ia mengikuti persidangan para pengarang Asia Tenggara di Baguio, Filipina. Karena prestasinya yang demikian cemerlang, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memberikan penghargaan khusus untuk kumpulan puisinya yang berjudul Sejuta Milyar Satu, 1984.
Nasib cerita pendek Eka, pun mengkilap seperti puisi-puisinya. Pada tahun 1987, Eka pernah diundang untuk mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat. Cerita-cerita pendeknya juga mengisi antologi dalam Dua Cerpen-zwei Kurzgeschicten, dalam edisi bahasa Indonesia dan Jerman (Goethe Institut, 1986). Juga dalam Antologi Cerita Pendek Indonesia suntingan Satyagraha Hoerip (Gramedia, 1986). Kumpulan cerpen tunggal yang berjudul Api Rindu (1987) diterbitkan oleh Pustaka Maria, Jakarta. Kumpulan cerpennya yang lain yaitu Taman Seberang (2002) di terbitkan oleh Jendela, Yogyakarta.
Karena dedikasinya menyuarakan aspirasi masyarakat, terutama lingkungan dan sosial masyarakat bawah melalui sajak maupun cerpen-cerpennya, ia menerima penghargaan dari ASHOKA Foundation. ASHOKA Foundation merupakan sebuah lembaga International yang memperhatikan pengabdi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan sebagainya.
Dari Kearifan Tradisional sampai Karya Sastra
Wacana melestarikan alam dan anjuran untuk memelihara lingkungan, mungkin sudah sama tuanya dengan umur manusia. Tetapi ilmu yang meneliti, mengkaji dan mengembangkan daya dukung lingkungan hidup dirasa baru muncul setelah 1960-an, pasca revolusi industri dan perang dunia ke-2. Dimana dunia saat itu mengalami kiamat kecil karena berebagai bencana datang bertubi-tubi seperti kabut industri di Inggris dan pencemaran mercuri di Minamata Jepang, serta makin luasnya kebocoran ozon akibat efek rumah kaca dan pemanasan global.
Para Doomsday Preacher (pengkotbah hari kiamat) yang muncul, berceramah tentang implikasi yang timbul apabila kita alpa menjaga lingkungan, telah memberikan angin segar bagi pemerhati lingkungan hidup. Masyarakat mulai sadar dan beranjak meninggalkan sifat nekrofilis mereka. Teori ini serupa dengan model penggalangan agama dan penjualan polis asuransi. Kita berasumsi, bila orang berhasil dibuat merasa takut, ngeri, dan seram, bisa jadi berpaling ke “jalan yang benar” yaitu meninggalkan praktik-praktik buruk yang selama ini telah menggiringnya ke dalam bahaya, atau mungkin juga ke “neraka”.
Hal itu ternyata cukup efektif dalam menggerakkan massa untuk ikut berpartisipasi atau menanggapi tiap wacana tentang lingkungan yang tengah marak. Menurut Eka, perihal penyuluhan lingkungan hidup seperti itu, yang dipenuhi oleh berbagai rambu, atau neraka-neraka baru, dapat membuat masyarakat kembali sadar akan pentingnya paradigma baru, cara berpikir dan cara hidup yang lebih berkelanjutan.
Selain menakuti-nakuti manusia dengan akibat buruk atas perbuatannya terhadap alam, para Doomsday Preacher juga mengenalkan hidup lestari atau resep hidup seperti yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Kita bisa melihatnya pada kelompok-kelompok kecil seperti suku Baduy (sekarang sekitar 5000 jiwa di Banten Selatan), yang selama ini telah menjaga hutan dan pelestarian sumber air. Kelompok ini ternyata memiliki gaya hidup yang selaras dengan alam. Demikian dengan masyarakat Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, Talangmanak di Jambi atau “upacara sasi”, ritual pelestarian laut di Maluku dan Papua. (Yayasan Sahabat Aqua)
Berangkat dari ide seperti itulah kemudian Eka merefleksikannya pada karya sastranya. Membaca puisi-puisi maupun cerpen-cerpennya, seperti melihat pemantik, yang akan membakar sifat Nekrofilis dan memunculkan sifat Biofis manusia, yang saat ini terpuruk oleh derap pembangunan dan industri. Dalam karya-karya Eka, jika kita perhatikan seksama, banyak sekali mengandung kearifan tradisional (baca: lokal).
Sengaja Eka mengangkat kearifan tradisional, karena ia percaya, bahwa; “dongeng” yang dibawa turun-temurun untuk berlaku arif pada lingkungan, ternyata cukup ampuh dalam mempengaruhi psikologi penduduk lokal untuk benar-benar mencintai lingkungan.
Pengembangan masyarakat lokal yang kuat lewat ajaran atau kepercayaan untuk mencinta alam, ternyata memiliki pengaruh yang besar dan hampir mutlak menjadi prasayarat untuk semua kalangan yang bercita-cita menanamkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan. Eka juga telah mengagas sebuah ide untuk memberikan pemahaman psikologi sosial dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Menurutnya, hal ini mampu memperbaiki kondisi fisik, ekonomi dan spiritual manusia untuk menjaga dan menjadi konservator bagi sumber-sumber alam.
Refleksi Karya-karya Eka Budianta
....
Dari jendela ini aku memandang dunia
Dari jendela ini aku mengenal hidup
Dari jendela ini aku mendapat berkah
Dari jendela ini aku bicara untuk seluruh bumi
....
(Jendela Kecil di Pegunungan, Eka Budianta)
Salah satu sajak Eka ini, merupakan upaya dia mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam merawat bumi. Menurutnya, bicara untuk bumi, berarti bicara untuk diri sendiri. Perawatan bumi sudah diromantisir, juga telah menjadi komoditi politik, ucapnya. Tetapi sebenarnya tujuan perawatan bumi sama seperti merawat rumah kita, yaitu agar kita dapat hidup sehat dan nyaman. Jadi merawat bumi, juga menjadi kepentingan kita sendiri.
Puisi-puisi Eka Budianta memang tak pernah lepas dari isu sosial serta lingkungan di masyarakat. Konsepnya untuk memasukkan isu sosial dan lingkungan sangat jelas, yaitu ingin memperjuangkan perubahan masyarakat yang plural, toleran dan mencintai identitasnya sebagai masyarakat yang kental budaya ke[timur]an. Ia sering mengadakan lokakarya dan bimbingan mengarang. Misalnya di kalangan Komunitas Sastra Indonesia dan pelatihan jurnalisme lingkungan di berbagai daerah, selain juga aktif memberi ceramah mengenai dampak kerusakan lingkungan di berbagai LSM dan masyarakat.
Kegelisahannya terhadap kerusakan lingkungan, banyak terefleksi di sebagian karya-karyanya, salah satunya adalah puisi yang berjudul Jendela Kecil di Pegunungan di atas. Rasa pesimisme yang tiba-tiba menyergapnya, ketika memandang bangsanya menjadi kapitalistik dan lupa akan identitas diri, kadang mewarnai puisi-puisinya. Seperti dalam puisinya yang berjudul Sejak Kapan Dunia?, dalam kumpulan puisinya Sejuta Milyar Satu:
....
100 peluru kendali MX, 5 kapal induk dan 84 kapal selam nuklir.
Semuanya membidik tepat ke jantungku.
Menjadi sastrawan, bukan berarti tidak diperkenankan terjun langsung ke lapangan, memberi penyuluhan atau ceramah yang jelas hasilnya lebih nyata ketimbang harus menyepi di kamar dan membolak-balikkan halaman buku, mencatat materi untuk sajak-sajaknya. Eka Budianta yang sekarang sudah berkehidupan mapan, sangat berang ketika mendengar pendapat Arif Budiman (Soe Hok-Djin) yang pernah menjadi pilar bagi majalah Horison, mengatakan; mustahil penyair yang sudah mapan, berada di ruangan ber-AC, tertarik pada pada isu kerakyatan dan mau terjun langsung ke lapangan.
Maraknya industri di negara kita yang ditunggangi para kapitalism, membuat Eka mau tak mau harus berjuang kembali untuk membendung arus yang berimplikasi buruk bagi negaranya. Sajak-sajaknya yang selama ini telah menjadi alat, sepertinya tak lagi mempan melunakkan moral masyarakat yang terlanjur bebal.
Simak baik-baik puisi Eka yang menunjukkan bahwa pusara kapitalistik telah menenggelamkan negaranya, bahkan telah memperkosa lingkungannya.
Bulan dan traktor bersatu di ladang
Malam-malam begini, komputer & cengkerik
Sama-sama menyanyikan rindu padamu
Lalu kamu, sedang apa sahabatku?
Di Tiom, bersama komputer & traktor
Kubayangkan engkau sedang mengolah Indonesia
Sementara di eskalator ini aku berdiri
Menatap masa depan dan masa lalu
Yang tiba-tiba berkumpul jadi hari ini
.....
(Nyanyian Untuk Tiom, Eka Budianta)
Wanti-wanti Eka untuk tidak melupakan identitas asli kita, tertuang pada cerpennya yang berjudul Taman Seberang. Di situ dikisahkan tentang seorang anak yang bernama Kristono. Kakek Kristono selalu bercerita kepadanya tentang mitos apabila ada seorang yang menyebrangi sungai di dalam hutan larangan, maka orang itu akan berubah menjadi babi.
Cerita itu merupakan sebuah mitos yang dipercaya penduduk desa dan kakek Kristono, karena mitos itu pulalah sumber mata air dan hutan di desa Krostono terjaga. Seperti yang dikatakan Ibunya Kristono; “itu hanya cerita supaya orang-orang tidak mengotori mata air dan merusak hutan larangan.” (Taman Seberang)
Sebenarnya bukan itu yang menjadi angle Eka Budianta dalam menyoroti ceritanya. Namun, dimana ketika Kristotono beranjak dewasa dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya, dia merasa dia telah memasuki hutan larangan dan telah mengotori sungai-sungainya. Kristono telah menjadi binatang jelmaan ketika bertemu dengan keluarganya dan teman-temannya.
Astaga, apakah aku sudah menjadi seekor babi hutan. Hatiku mulai berdebar-debar. Celaka aku, jangan-jangan cak Tambar tahu. (Taman Seberang)
Cerpen Taman Seberang secara garis besar, merupakan sebuah simbol yang tersiratkan dalam sebuah kearifan tradisional yang coba dilukis Eka Budianta. Dengan menjadi Doomsday Preacher dan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, untuk bersama-sama menjaga lingkungan, Eka Budinta telah menjadi bukti, bahwa seorang sastrawan pun bisa turun ke lapangan merealisasikan gagasannya.
Membaca Menara Waktu
Wednesday, November 18, 2009Akulah menara jam itu. Menentukan arah. Membawa cuaca dalam genggaman. Sanggup memberikan warna apa saja dalam cahaya. Seperti pagi yang jatuh di bawah bayang-bayang batu. Aku memulasnya jadi hijau dalam musim yang kemarau.
Siapa yang sanggup menghentikan kembara sang waktu. Karena langit selalu meneriakkan tanda rahasia. Memantulkannya pada jendela-jendela kota. Hingga terhirup seperti udara dalam nafas. Disanalah waktu berenang bebas, hingga kau berhenti dengan nafas yang begitu pucat. Dalam gelap yang menyempurkan malam.
Aku berjalan menyusuri lorong hujan. Musim basah. Gelap berubah remang-remang. Kecemasan berenang-renang dalam darah. Duduk di sebuah batu. Ah, begitu dingin ruang tunggu ini dan sebuah kamar kematian mulai mengintaiku.
Dalam catatan tugas ketentaraan, aku sudah dicap sebagai desersi. Musuh paling dicari dalam kesatuan. Cepatlah berkemas, bisik pohon-pohon dalam pelarianku.
Dalam hutan. Kecemasan menjadi racun paling mematikan. Dialah musuh utama yang harus kamu taklukkan. Bayang-bayang daun rontok. Menjadi isyarat paling hitam dengan musik yang kedengarannya seperti requim. Isyarat itu pengkabaran beku, kisah para pengelana yang mati oleh buasnya kesunyian.
Dalam duniaku, cahaya telah menghisap debu-debu. Membakar sepi dalam ranjangnya yang sendiri. Tanpa kasur dan bantal. Sebuah tempat tetirah paling menyenangkan, setelah menziarahi matahari. Disana beterbangan mimpi-mimpi penuh cahaya. Seakan-akan mimpi adalah kenyataan itu sendiri.
Namun, ini dunia yang asing. Dimana aku tidak bisa melawannya dengan bedil dan bayonet. Hanya sepi dan lembabnya tanah menjadi riwayat yang aku kenali. Penuh rawa-rawa lengkap dengan semua jenis binatang buas. Serta aroma kebun kamboja yang menjadi dupa untuk memanjatkan doa.
Aku rebahkan tubuhku di sebuah bukit kecil di tengah-tengah belantara. Rasa capek luar biasa menyemut di sekujur tubuh. Perutku kejang. Gelisah panjang membawaku dalam persetubuhan sepi. Akhirnya, kelelahan menidurkanku. Dan enzim yang perlahan-lahan meracuni, mulai keluar dari batang-batang rumput yang aku makan selama satu minggu ini.
“Ah! Seandainya atasanku tidak memperkosa kekasihku.”
Aku tak akan sudi berkelana dalam asing musim ini. Sebilah sangkur menembus dada hingga ke belakang. Darah bercampur tuak muncrat. Beberapa saat aku takjub. Begitu indah bercengkerama dengan kematian. Matari pun gontai. Cahaya jatuh limbung dalam semak-semak. Bangkainya ditemukan seminggu kemudian.
Gerimis dari embun tumpah di bawah kaki. Tiba-tiba kucium sekali lagi wangi rambutmu yang panjang terurai. Melintasi reruntuhan rindu. Suara biola mengalun dari kaki-kaki langit. Kulihat bola matamu yang selalu berkaca-kaca. Sebening embun di ujung daun. Kata-katamu indah memuntahkan seribu atlas yang terbakar. Melihatmu, brahmana pun sudi meninggalkan pertapaannya. Sardi rela kehilangan nyawanya. Taman-taman kehilangan mawar. Pagi kehilangan matahari serta cahayanya.
Kau gadis desa. Lahir dan besar diatas setumpuk daun-daun pisang. Cahaya seringkali memandikanmu dan pohon mengajarkanmu untuk selalu berkidung. Siapapun akan jatuh hati, ketika matamu sedingin es itu menusuk tepat di ulu hati.
Perempuan tanpa nama. Lahir hanya untuk membuatku takjub. Membuatku selalu ingin belajar bagaimana caranya merangkai kata-kata. Hendak kuriwayatkan cuaca untukmu. Kubangun seribu menara jam untuk membuat waktu jadi milikku. Kupersembahkan seutuhnya selusin musim tanpa cidra dalam anganmu. Kusatukan seribu benua dalam peta yang mengisyaratkan sepi untuk mempersuntingmu.
Aku tak akan menyesali pelarianku ini. Satu cahaya kini, adalah tubuhmu yang menungguku di sebuah danau biru. Hanya menungguku . Atau waktu?
Apa yang meski aku ingat darimu kini? Wajahmu? Hidungmu? Kupingmu? Kedua dadamu? Kedua kakimu yang seputih pualam? Sedang pada namaku sendiri aku menjadi alpa. Apa yang tersisa dalam waktuku? Riwayat-riwayat aku biarkan menjadi lusuh dan pudar. Tapi untukmu. Aku kekalkan pada waktu, hingga mayat sekalipun akan bertanya-tanya tentangmu.
***
Permukaan danau memantulkan wajah sosok yang anggun. Dengan rambut hitam yang terurai lembut menyentuh embun. Hatinya remuk. Sepanjang malam ia hirup penuh aroma bulan. Keringat menetes-netes setiap kali ia mengenang fragmen itu. Malam menjadi gang-gang suram. Ingin dia pungut sekali lagi jejaknya di belantara.
Dalam usianya yang baru 20 tahun. Dia membawa dua jasad dalam tubuhnya. Segala bahagia habis sudah terpenggal oleh usia. Sekali lagi waktu yang keburu ditumbangkan nafsu dan syahwat dalam cuaca dan hujan. Perempuan itu membawa sebilah sangkur yang penuh noda darah.
“Meditasi seperti apa yang bisa membuatku tak tersentuh oleh waktu?” teriakanmu menggema mengisi lembabnya udara di belantara. Daun-daun rontok seketika. Angin yang awalnya diam, kini berdesir kuat. Menerbangkan bau-bau bangkai yang terkubur Lumpur. Musim menjadi garang. Hujan dan terik menjadi satu.
“Bencana akan menjadi waktu dalam peta perjalanan dunia ini.” Kutukmu.
Perempuan itu menatap lama pada setangkai teratai yang sendirian di atas permukaan danau yang tenang. Seperti menemukan kembali oase kebahagiaan disana. Bentuk dunia yang pernah ia cipta sendiri. Dimana jazz dan suara alam bersimfoni membuat lagu sebagai ucapan selamat datang pada pagi. Tidak ada teka-teki di sana yang harus kau pecahkan. Serta tak ada lagi laki-laki yang mengumbar syahwat untuk kaumnya.
Perlahan ia gores lengannya sendiri. Tercium wangi mawar dari pohon-pohon di hutan. Burung kuntul terbang merendah. Berhenti pada sebatang kayu kering. Ia mabuk oleh aroma asing, yang tak ditemuinya di dunia ini. Kepik-kepik merah dan kuning dengan jumlah sangat banyak merubung tubuhnya. Mereka membangun jembatan untuk jiwa perempuan. Gerimis datang seketika membasahi permukaan danau.
Sempurnalah legenda perempuan itu. Telah ia lawan sendiri waktu. Ia ukir sendiri kisahnya yang pilu dan menggetarkan. Meski pada akhirnya ia harus kalah.
***
Gerimis membangunkanku. Hatiku tiba-tiba sesak. Kenangan dan mimpi-mimpi berlarian keluar melalui mulut dan kedua telingga. Kelelawar-kelelawar terus mencicit dan berloncatan di sayapnya yang selalu kelabu. Mengenggam biji-biji kematian serta seribu muslihat untuk mengambil jiwa siapapun.
Kelelawar kini membiak di jantungku. Tubuhku sehijau seragam ketentaraan yang masih kupakai. Tubuhku melumut. Kedua kakiku beku. Menancap ke dalam tanah. Menjadi sebatang akar yang kuat mencengkeram bumi.
Cahaya-cahaya yang tersisa meloncat keluar dari pori-pori. Melayang menyerbu gua-gua pertapaan. Segenap Masjid dan Gereja. Ke Wihara dan Candi. Ke semua arah mata angin. Aku tak boleh kalah oleh waktu.
Ingin rasanya aku mulai lagi perjalanan ini. Menyusuri lorong dan menyebrang riam. Membiarkan tubuh di bawa rakit ke samudera. Disanalah harga kebebasanku. Tapi aroma mawar membuatku semakin ingin rebah dan tidur. Membawaku menyelam ke dasar danau yang hampa.
Tanganku mulai gemetar. Dinginnya baja dari bayonet di sisiku, membuatku ingin secepatnya mengakhiri kisah ini. Hingga tak perlu lagi takut pada waktu. Biar tak ku dengar lagi musim yang datang hanya untuk menertawakan. Lalu sekejap hilang menjadi senja.
Sebenarnya sudah habis kata-kataku. Sudah tak ada lagi kata untuk mencatat peristiwa-peristiwa. Semua terlalu hening. Bahkan dari sini bisa kudengar dengkur ratu semut. Tetes embun yang jatuh menggelombang di danau. Lalu aku hanya ingat waktu tiba-tiba berhenti. Cahaya menggelap dan akhirnya sirna. Tubuhku dingin. Tak kukenal lagi perempuan itu.
Yogyakarta, Juni 2008
Kisah Melawan Sampah
Wednesday, November 18, 2009
Syahdan, sebuah “kisah atau cerita” dihadirkan untuk menelanjangi egoisme manusia yang kerap menjadi kebodohan terbesarnya. Ia adalah suara nurani yang mencoba untuk menyadarkan kita bahwa ada “sesuatu “ yang tak pantas dalam kehidupan kita. Sesuatu yang akan menjadi palu ketika kita telah mengkatamkan jalan ceritanya. Dan ia patut didengarkan bukan hanya karena menarik untuk disimak, namun lebih karena ia tak pernah berangkat dari kekosongan budaya.
Cerpen Tim (kumpulan cerpen Taman seberang) karya Eka Budianta adalah salah satu kisah yang patut didengarkan itu. Sepenggal kisah yang dihadirkan Budianta sebagai upayanya untuk memberontak dari egoisme kita yang senantiasa abai pada lingkungan. Tema sampah dalam cerpen itu merupakan satir bagi penguasa, intelektual dan seluruh umat manusia dalam negeri ini. Ketidakpedulian kita terhadap sampah merupakan awal dari bencana yang susul-menyusul melanda negeri ini.
Kisah ini berawal ketika Tim bertemu Tuhan di sebuah pelbak di sudut kota. Budianta, selaku ‘Tuhan’ dalam ceritanya, kemudian menanyakan sesuatu pada Tim—seorang tukang daging babi yang teralienasi dari lingkungannya—mengapa kotanya sangat kotor, bahkan sudah seperti kotorannya. Jika dalam seminggu Tim tidak bisa mengumpulkan seratus orang untuk membersihkan sampah-sampah di kota ini, maka Tuhan akan membuat kota ini celaka.
Pengembaraan Tim sebagai orang yang tak pernah sekali pun memainkan peranan mulia dalam masyarakat, dimulai. Nurani para penghuni kota itu kemudian ditantang Tim untuk membantunya membersihkan perlbak. Mereka tak bergeming, mulai dari para pencari kerja sampai para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi, tak ada yang sudi membantu tukang daging itu.
Dalam pelbak, dimana dirinya pertama kali bertemu Tuhan, Tim menangis. Dia merasa gagal karena tidak bisa mengumpulkan orang-orang dan gagal menyadarkan semua orang. Dirinya juga merasa bersalah kepada masyarakat karena tidak mampu mambendung bencana yang dijanjikan Tuhan.
Dalam cerpen Tim ini, Budianta sengaja meramu sebuah alur sederhana, sebuah pesan singkat, padat yang seringkali terabaikan, yakni masalah sampah. Sebagai seorang yang memiliki kapabilitas dalam urusan sosial dan lingkungan, budianta dengan sengaja menusuk ingatan para pembacanya akan bahaya sampah bagi lingkungan dan manusia.
Dengan berani pula Budianta menyindir keberadaan nurani penghuni negeri ini, ketika Tim dicaci, dimaki oleh para pencari kerja di kantor jawatan umum. Bahkan ketika berorasi untuk mengajak masyarakat membantunya membersihkan pelbak, dirinya mendapat hadiah lembaran kotoran dari orang-orang.
Tim sudah mencoba dengan sekuat tenaga, tapi hasilnya, tak satupun orang yang membantunya membersihkan sampah di kota. Dia sudah mencoba berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Ia juga mendatangi supermaket, kuli-kuli bangunan, berpidato di stasiun, taman mini dan dimana saja. Ia juga berkali-kali membujuk Tuhan untuk tidak menurunkan bencana bagi kota ini. Namun, pekerjaannya sia-sia. Kemudian Tuhan mengirimkan sebuah hujan yang lebat sebagai awal dari bencana yang pernah dijanjikan pada penduduk kota lewat Tim.
Tragedi Sampah
Bukan saja dalam cerpennya yang berjudul Tim, tapi hampir di seluruh cerpennya, Eka Budianta sengaja menghadirkan cerita-cerita yang bertema sosial dan lingkungan. Dirinya melihat, ditengah pesatnya kemajuan-kemajuan dalam negeri ini, ternyata manusianya masih bersikap antroposentris dan mengeleminir masalah-masalah lingkungan.
Dalam cerpen Tim itu sendiri, Budianta meramalkan bahwa permasalahn sampah jika masih berlarat-larat dan belum tertangani dengan baik, maka akan mengundang bencana. Diakuinya memang, jika sampai saat ini permasalahan sampah belum juga tertangani secara maksimal oleh pemerintah.
Hal ini juga dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran kita dalam membina kembali hubungan dengan alam. Rachel Carson, dalam bukunya Silent Spring; mengungkapkan tentang hubungan-hubungan ekologi dan menyarankan dimasukkan manusia dalam hubungan itu bukan diluarnya, serta mempersoalkan gagasan tradisional tentang kemajuan ilmiah.
Dampak-dampak yang diakibatkan oleh strategi modernisasi dari masyarakat komersial serta rancangan tata kota yang tidak memihak, seringkali merugikan dan bahkan menciptakan lingkaran bencana yang tak kunjung terselesaikan. Bagi perimbangan ekologi sendiri, hal itu, khususnya sampah seringakali berdampak buruk.
Petaka sebagai akibat dari kekurangarifan kita terhadap sampah adalah kasus TPA Leuwigajah, Bandung. Sampah yang ditumpuk (open dumping) berubah menjadi bencana yang meminta tumbal sebanyak 148 warga. Ratusan kubik sampah yang menumpuk hingga setinggi 60 meter, lebar 200 meter dan sepanjang 400 meter, 21 februari 2005 silam, longsor dan menimpa rumah warga dibawahnya.
Permasalahan sampah tidak berhenti disitu. Masih seringnya banjir di kota-kota besar, merupakan bukti, pemerintah dan masyarakat belum juga belajar dari keajadian di Leuwigajah Bandung. Cerpen Tim bisa saja kemudian menjadi Timeless, melampaui ruang dan waktu, dan selama kita masih lupa betapa pentingnya lingkungan terhadap kehidupan kita.
Semua cerita dalam kumpulan cerpen Taman Seberang ini, sengaja dihadirkan Budianta untuk kita renungi, media merefleksi diri untuk kembali bersahabat dengan lingkungan. Jika saja pembacaan cerpen Tim kita cerna dengan baik, mungkin kejadian seperti longsornya TPA Leuwigajah, merebaknya penyakit muntaber, demam berdarah serta banjir tak mudah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sekali lagi sebuah cerita hadir bukan karena kekosongan budaya, tapi ada masalah yang masih terabaikan.
Filsafat, Seks dan Sastra
Wednesday, November 18, 2009Menurut Budi Darma, perkembangan sastra dalam negara kita adalah perkembangan yang akhirnya akan mengkristal, pada hakekatnya pengertian sastra mutakhir adalah nisbi. Budi Darma mengemukakan hal demikian karena melihat sejarah perkembangan sastra di Indonsia, masihlah belum panjang. Jarak ini makin tidak jelas karena pengarang yang sanggup bertahan dalam proses kristalisasi tersebut tidaklah banyak. Misalkan saja: Sutan Takdir Alisyahbana mulai menulis pada tahun 1930-an, Mochtar Lubis pada akhir dekade 1940-an, dan tetap tegak. Sementara Iwan Simatupang menulis sekitar tahun 1960-an, namun karyanya tetap hidup kendati Iwan sendiri telah meninggal pada era tahun 1970-an. Novel yang masih bernafas sampai sekarang, misalnya Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja. Perkembangan sastra mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu, khususnya untuk sastra yang benar-benar ampuh. Meskipun demikian sastra mutakhir akan menjadi sebuah ancang-ancang bagi sastra di masa depan.
Banyak hal yang juga menjadi unsur untuk membangun karya sastra. Pada zaman Balai Pustaka, tidak akan ada label Balai Pustaka apabila tidak adanya keputusan politis yang diberikan Pemerintahan Hindia Belanda mengenai penerbit Balai Pustaka. Sastra Pujangga Baru pun juga tidak akan ada, apabila Indonesia waktu itu sudah merdeka. Pada saat sekarang sudah mulai muncul kembali gejala-gejala yang mempunyai implikasi terhadap karya sastra, dan membentuk sastra indonesia Mutakhir. Banyak hal yang menjadi menyangkut gejala-gejala itu, filsafat, kerinduan arkitipal dan sufhistifikasi.
Kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu unsur yang saling mempengaruhi. Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat. Dalam perkembangan karya sastra sendiri dari zaman Balai Pustaka sampai sekarang, pemakaian filsafat dalam karya sastra berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan lingkungan sosialnya dan perkembangan zaman.
Kita tahu sebelum pecah perang dunia ke-II, gaung filsafat dalam karya sastra masih sangat kurang. Namun setelah tahun 1960-an, riak-riak Eksistensialisme dan Absurdisme menjamur memenuhi novel-novel Iwan Simatupang, bahkan sampai sekarang, gema filsafat dalam karya sastra masih ada dan akan terus terasa.
Terpengaruh dari pengarang-pengarang filsafat, Albert Camus dan Jean Paul-Sartre pasca perang dunia ke-II. Para sastrawan di Indonesia mulai menggali eksistensialisme yang ada dalam dirinya. Salah satu unsur penting dalam eksistensialisme adalah filsafat ketakutan seperti yang ditunjukkan oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung (1952). Eksplorasi tentang ketakutan, tentang hakekat ketakutan, mewarnai karya-karyanya. Walau dalam novel ini Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romantis, mengenai makna akan ketakutan. Mochtar Lubis tetap dijadikan pioner dalam filsafat sastra di Indonesia.
Muncul kemudian yang namanya allienisme dan absurditas. Allienisme merupakan perasaan kesendirian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang ketika orang itu berada di keramaian. Hubungan dengan tetangga dan yang tidak begitu akrab karena sibuk pada pekerjaan atau pikiran masing-masing juga merupakan pengejawantahannya. Contoh novel yang terdapat unsur Allienisme adalah novel-novel milik Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo dan lain-lain.
Absurdisme juga dianggap sebagai simpul eksistensialisme. Pada hakekatnya pengertian dari absurdisme adalah betapa tidak “bermaknanya” kehidupan kita. Landasan pemikiran tentang wacana absurdisme yang dikemukakan pertama kali oleh Albert Camus adalah sebuah mitologi Yunani kuno tentang Sisipus. Pada saat mendorong batu ke atas Sisipus merasa bahagia karena menggangap kehidupannya kini bermakna. Setelah sampai puncak bukit dan kemudian mengelinding kembali ke bawah, dia mendorongnya kembali keatas bukit. Demikianlah pekerjaan Sisipus terus menerus, sama halnya perjalanan kita.
Perkembangan sastra pun menjadi bermacam-macam, antara lain berbentuk karya sastra anti logika, anti plot, anti perwatakan dan lain sebagainya. Absurdisme dalam karya sastra dapat kita temukan pada karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Danarto, Yulius Sriaranamual. Absurdisme makin menjadi mantap tatkala, kita sering melihat kesemrawutan dalam realitas kehidupan kita.
Awal Millenium, muncul novel-novel yang juga menganut aliran seperti ini. Supernova karya Dewi Lestari; Larung, Saman milik Ayu Utami. Ke-absurd-an penceritaan dan plot yang meloncat-loncat menjadikan karya-karya mereka mampu menambah khasanah kesastraan di Indonesia.
Gunawan Mohamad berpendapat mengenai muatan seks dalam karya sastra; ada tiga sikap dalam karya sastra Indonesia tehadap persoalan seks dan penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai ”mawar berduri.” Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara ”meneriakkannya dengan keras-keras.” Karya-karya yang demikianlah yang mungkin digolongkan sebagai karya-karya ”pornografis”, yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, antara lain seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.
Sejarah mencatat bahwa kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering karena faktor ketidak siapan masyarakat bersangkutan (sebagai pembaca) atau birokrat (Penguasa Politis, Spiritual, Moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang bertentangan dengan tata nilai kolektif. Seabad silam ketika Gustava Flaubert di Prancis menerbitkan sebuah buku yang berjudul Madame Bovary, banyak orang tersentak karena karya sastra itu dengan terbuka menyerang Hipokrisi kelakuan seks kaum elite masyarakatnya. Dalam novel itu bercerita tentang perselingkuhan istri lelaki terhormat Emma Bovary yang justru menemukan kebahagiaan di luar pernikahannya dengan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya. Merupakan sebuah tamparan telak bagi sebuah konstruksi mapan dan tak menghendaki kritikan. Itu pula yang terjadi di sini dengan belenggu karya Armijn Pane (1940), yang kemudian menjadi perdebatan diantara para penelaah sastra.
Merunut sejarah munculnya karya sastra yang bermuatan seks, adalah ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis, di mana keterbukaan seks menjadi senjata kaum muda untuk memberontak dan rasa takut pada maut (“Make love, not war!”), sejumlah nama sastrawan-sastrawan muncul sebagai ikon.
Salah satunya, Anais Nin (1903-1977) seorang perempuan keturunan Prancis yang punya talenta tinggi dalam menggarap novel dan cerpen dengan muatan seksualitas secara ekplisit. Di ujung usianya namanya dikukuhkan menjadi ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring pergerakan zaman. Dalam pengantar kumpulan buku kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin berpendapat bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menulis kan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki. Dari kacamata inilah kemudian Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Herlinatiens memuat seks pada karya-karya mereka. Mungkin bukan hanya sekadar seks yang mereka coba vokalkan, melainkan juga unsur politis, terutama kebijakan pemerintahan yang masih menganut militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dengan ke-absurd-an penceritaan tentunya.
Mungkin pada zaman Balai Pustaka saat itu kesemrawutan ada pada unsur instrinsiknya masih belum sepenuhnya terjadi. Pada masa itu alur, perwatakan dan logika penceritaan masih bisa kita nalar dan mengalir secara linier, hingga memudahkan kita dalam mengikuti cerita. Ini bisa kita lihat pada novel-novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar (1920), Siti Nurbaya karangan Marah Rusli (1922) dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis (1928). Pemuatan unsur seks pun belum merebak, karena pada zaman itu pengaruh feodalisme masih kuat mengakar di masyarakat.
Ada sebuah hal baru juga yang mengebrak dalam penciptaan karya sastra pada awal lahirnya Balai Pustaka. Yaitu, sebuah pengembanggan baru tentang wawasan penciptaan karya sastra oleh Merari Siregar dalam novelnya Azab dan Sengsara. Dalam novel itu tidak lagi terikat dengan sastra lama. Ini bisa dilihat dengan settingnya yang keluar dari main stream istana sentris, mulai meninggalkan wacana hikayat, tokohnya merefleksikan keangkuhan dari lingkungan rakyat, temanya adalah perjuangan manusia sehari-hari bukan lagi realitas dongeng.
Pada awal masa Pujangga Baru tahun 1930-an. Pengembangan unsur-unsur intrinsik masih belum berbeda jauh dengan Balai Pustaka. Walaupun begitu, Belenggu karya Armijn Pane merupakan revolusi terhadap novel-novel yang dibarui oleh Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya atas individualisme yang memenuhi kriteria estetik dalam karya itu.
Pada tahun 1950-an terjadi perpecahan dalam hal pemikiran mengenai karya sastra. Pemikiran antara sastra Humanis Universal diwakili oleh kelompok Manifes Kebudayaan dengan sastra Proletar (Realisme Sosialis) diwakili Lekra. Manifes Kebudayaan mengginginkan untuk dapat disandingkan dengan Manifesto Politik Republik Indonesia. Namun hal ini ditolak oleh Bung Karno, karena Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai pancaran Pancasila tidak mungkin didampingi dengan manifesto-manifesto lain, apalagi kalau manifesto itu sudah menunjukkan sikap apatis terhadap revolusi dan memberi kesan berdiri sendiri.
Pada bangsa yang heterogen, kita seperti berpijak pada dua dunia yang saling berhubungan, dan tidak mungkin kita pisahkan-pisahkan—sub-kebudayaan kita masing-masing di lain pihak kebudayaan bangsa Indonesia seluruhnya. Baik sadar atau tidak sadar, kita sering dihadapkan pada kerinduan kita akan makna arkitipal, rindu akan sub kebudayaan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendoktrin hidup kita masing-masing. Linus Suryadi A.G, Y.B Mangunwijaya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Darmanto Yatman dan lain-lain pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dalam kerinduan arkitipalnya masing-masing telah menggali kebudayaan Jawa dalam karya-karyanya.
Polarisasi masyarakat Indonesia juga akan mempengaruhi sastra. Warna lokal akan tumbuh sejalan dengan makin terasanya polarisasi. Apakah nantinya karya sastra semacam ini akan dimasukkan dalam dalam sastra nasional atau daerah yang berbahasakan Nasional, tentunya tergantung pada pada mutu karya sastra itu sendiri.
Tumbuh suburnya sastra sufi akhir-akhir ini, seperti misal sastra transendental, juga merupakan pengejawantahan kerinduan akan arkitipal. Namun juga terdapat misi tersembunyi bagi sebagian pengarangnya, yaitu sebagai penyeimbang karya-karya sastra yang sarat akan muatan seks yang kemudian dianggap tabu oleh sebagian orang. Sekaligus sebagai solusi dekadensi moral yang semakin semrawut di Indonesia. Taufik Ismail dan Danarto, yang masih aktif berjuang di jalan ini, mengharapkan kelak negerinya akan terkurangi dari polusi kemerosotan akhlak dan membangun kembali nilai luhur budaya masyarakat yang sekarang mulai runtuh.
H.B. Jassin dan Ingatan Bangsa
Wednesday, November 18, 2009
Apa jadinya jika saja tidak ada orang macam Alm. H.B Jassin atau Alm. Pramoedya Ananta Toer, yang telaten mendokumentasikan serpihan-serpihan tulisan mengenai bangsa ini? Tentunya, ingatan bangsa ini makin pendek. Bagaimana mau menjadi bangsa yang besar, jika kolom sejarahnya dibiarkan lekang dimakan ‘rayap’. Atau haruskah kita membuka lembaran-lembaran ensiklopedi tentang Indonesia di luar negeri!
Kelihatannya, memori otak bangsa Indonesia memang cepat aus dalam mengingat sesuatu di masa lampau, dan akan tambah krodit lagi dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Sehingga segala sesuatunya dibiarkan berjalan tanpa referensi. Tanpa acuan yang jelas, juga tanpa program yang terencana. Semuanya dibiarkan berjalan sesuai wacana-wacana sesaat yang tak pernah terekam secara nyata pula.
Jika saja HB Jassin dan alm. bung Pram masih hidup, kita layak menghaturkan beribu-ribu terima kasih. Meski sepele, mengumpulkan serpihan-serpihan berita, sastra, atau artikel mengenai negeri ini, ternyata sangat berguna dalam memberikan referensi ke arah mana bangsa ini akan “aman” bergerak.
Ketika datang ke Jogja beberapa waktu silam, dalam agenda launching buku kumpulan esai dan puisinya, saya sempat kaget melihat bung Pram yang disaku kemejanya selalu terselip sebuah gunting. Dengan dibalut sebuah kain pada gagangnya, konon, gunting itulah yang menjadi sahabat setia bung Pram sekaligus “senjata” untuk berusaha menjadi manusia yang produktif.
Meski energi menulisnya sudah habis, tapi dirinya tetap berusaha untuk produktif. Lewat gunting itulah, di kamarnya sudah menumpuk lebih 2 meteran kliping berita, sastra, tulisan mengenai nusantara yang ia ambil dari koran dan majalah. Hampir tak ada koran dan majalah yang utuh di hadapan Pramoedya, karena setiap kali dirinya menemukan artikel menarik mengenai bangsa ini, saat itulah jari-jarinya lincah memotong kertas.
Begitu juga dengan H.B Jassin. Laiknya seorang ibu yang berlimpah kasih sayang, dirinya menggumpulkan, menyimpan serta merawat tulisan-tulisan para sastrawan entah itu serpihan kopi naskah, surat-surat, hingga naskah jadi yang belum terbit maupun yang sudah terbit. Hasilnya memang luar biasa, semua kliping dan dokumentasi itu tersimpan rapi di pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin.
Beda dengan Pramoedya, hampir seluruh usianya, ia serahkan untuk menyimpan data-data tertulis tentang sastra Indonesia dan budaya. Barangkali, seluruh dokumentasi H.B Jassin tentang sastra yang menurutnya memang saripati dari berbagai peristiwa itu, menjadi semacam dokumentasi kehidupan Bahasa dan sastra bangsa ini.
Tidak banyak tahu mengapa H.B Jassin begitu tertarik pada dokumentasi sastra. Apa yang mempengaruhinya? Sejak kapan? Dan mengapa dia begitu giat melakukan dokumentasi sastra?
Jika saja ada yang mengira H.B Jassin memulai kegiatan pendokumentasian sejak tahun 1940, tentulah anggapan itu salah. Jauh sebelum tahun itu, Jassin sudah jatuh cinta pada kegiatan dokumentasi. Sebenarnya , sudah sejak duduk di HIS Gorontalo (1927-1932) Jassin tertarik pada kegiatan pendokumentasian. Sejak saat itu, dirinya selalu menyimpan buku-bukunya dengan teratur dan rapi. Dia tidak suka apabila ada buku-bukunya yang robek dan rusak.
Kecintaannya pada buku berlanjut terus. Buku-buku hariannya—berisi tugas-tugas laporan yang disuruh oleh gurunya—juga masih tersimpan rapi. Selain itu juga masih tersimpan dengan rapi mengenai tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai surat kabar dan majalah.
Jassin diterima bekerja di Balai Pustaka atas rekomendasi S. Takdir Alisjahbana, juga berkat ketelatenan dia dalam meruwat tulisan-tulisan yang menyampah. Jassin langsung bisa diterima dan bisa bekerja hari itu juga. Menurut Jassin, “makin banyak buku kita, makin banyak pula pengetahuan kita, serta makin banyak pula hal yang bisa kita tulis.”
Jika dirunut darimana munculnya minat Jassin dalam mendokumentasikan sesuatu, ternyata sampai pada pengaruhnya bapaknya sendiri: Bague Mantu Jassin. Ternyata dari sang bapaklah, Jassin belajar banyak hal perihal dokumentasi, karena di rumah waktu itu dia memiliki perpustakaan peribadi. Seringpula Jassin mencuri-curi kesempatan untuk membacai buku-buku disitu (umumnya buku-buku untuk orang dewasa).
Dengan kata lain, minat jassin pada dokumentasi diwarisinya dari sang ayah. Menurut Jassin, makna dokumentasi itu terhadap bangsa adalah, dengan dokumentasi kita menjadi lebih kenal masalah-masalah, dalam hal dokumentasi kasusastraan dan pengarang-pengarang, latar belakang dan sejarahnya. Sebaliknya, menyia-nyiakan hasil karya kita berarti menyia-nyiakan kehidupan kita, sejarah kita, masa silam, masa sekarang dan masa depan bangsa kita. jassin menyimpulkan: “dokumentasi adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam dan memperluasnya.”
Biografi Singkat sang Paus Sastra
Hans Bague Jassin atau lebih dikenal dengan nama H.B Jassin lahir di Sulawesi Utara dari keluarga Islam dengan seorang Ayah yang bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan Ibu yang bernama Bahibah Jau, pada tanggal 31 Juli 1817. setelah menamatkan Gouverment HIS Gorontalo pada tahun 1932, Jassin melanjutkan pelajaran ke HBS-B 5 tahun di Medan, dan tamat akhir 1738.
Bulan Januari 1939, Jassin kembali ke Gorontalo. Antara bulan Agustus dan Desember 1939, Jassin bekerja sebagai Volontair di kantor Asisten Residen Gorontalo. Akhir Januari 1940, Jassin menuju Jakarta. Dan mulai Februari 1940 hingga 21 Juli 1947 bekerja di Balai Pustaka. Mula-mula dalam sidang pengarang redaksi buku (1940-42), kemudian menjadi redaktur Pandji Pustaka (1942-45), dan wakil pemimpin redaksi Panca Raya (1945-21 Juli 1947).
Pada Agustus 1958, ia menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah kasusastraan Indonesia Modern pada fakultas sastra Indonesia. Jassin sebenarnya tidak menyukai kegiatan mengajar, apalagi mengajar untuk perguruan tinggi. Disamping mengajar, dirinya juga mengikuti kuliah di fakultas yang sama, dan kemudian memperdalam pengetahuan mengenai ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat (1958-59).
Sejak Januari 1961, kepulangan dia dari Amerika, dirinya tetap menjadi pengajar luar biasa. Akan tetapi tidak lagi berdiri di depan kelas, melainkan hanya membimbing para mahasiswa yang ingin membuat skripsi. Antara lain, jassin membimbing penulisan skripsi Boen S. Oermajati, M. Saleh Saad, M.S. Hutagalung, J.U. Nasiotion, Bahrum Rangkuti, dan lain-lain.
Jassin adalah sala seorang tokoh manifesto Kabudayaan, sebuah manifesto yang dibuat tanggal 17 Agustus 1963 guna menentang pihak Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Jassin dipecat dari UI, akibat dari penolakan bung Karno terhadap manifesto kebudayaan. Dan pemecatan ini berlangsung hingga G30S/PKI meletus. Setelah itu, Jassin kembali ke fakultas sastra UI. April 1973, dirinya menjadi lektor tetap di UI untuk mata kuliah Sejarah Kasusastraan Indonesia Modern dan Ilmu Perbandingan Sastra.
Disamping mengajar dan mengikuti kuliah, sejak Juli 1954 hingga Maret 1973, Jasiin adalah pegawai Lembaga Bahasa dan Budaya, yang sekarang kita kenal dengan nama: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tanggal 20 Mei 1969, dirinya emndapat Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan pada umumnya.
20 Agustus 1970, Gubernur DKI (saat itu: Ali Sadikin) mengangkat Jassin sebagai anggota Akademi Jakarta (diketuai oleh S. Takdir Alsjahbana). Pada tanggal 28 Oktober 1970, ia dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun dengan masa percobaan dua tahun, atas pemuatan cerpen Kipantjikusmin “Langit Makin Mendung” di majalah Sastra (Agustus 1968). Dan sampai sekarang pun, hanya Jassin yang tahu siapa jati diri Kipantjikusmin sebenarnya.
Bulan April-Juni 1972, Jassin mendapat Cultural Visit Award dari pemerintah Australia. Selama delapan minggu, Jassin mengunjungi pusat-pusat pengajaran bahasa dan sastra Indonesia/Malaysia di Australia.
Atas usahanya dalam mendokumentasikan surat kabar, majalah dan segala penerbitan antara tahun 1870- 1920, dirinya diundang pemerintah Belanda untuk mengadakan penelitian di Leiden. Tanggal 26 Januari 1973, Jassin menerima hadiah Margatinus nijhoff dari Prins Bernhard Fonds di Deen Haag, belanda. Hadiah ini diberikan untuk jasa Jassin menterjemahkan karya Multatuli, Max Havelar (Jakarta: Djambatan, 1972).
Untuk menghormati jasanya dibidang Sastra Indonesia, tanggal 14 Juni 1975, Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Jassin, karena menurut Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar, dekan fakultas Sastra UI, “Pengetahuanorang tentang sastra Indonesia didasarkan pada pengaetahuan yang dikembangkan oleh Jassin.”
Sejak 28 Juni 1976, Jassimn menjadi ketua Yayasan Dokumentasi Sastra H.B Jassin yang terletak di Taman Ismail Marjuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Jassin mendapat hadiah dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1983 atas usahanya di bedang seni. Bulan Agustus-September 1984, Jassin menunaikan Ibadah haji.
Berziarah
Tuesday, November 17, 2009
"... kutuang segelas susu coklat panas. Aku menggelepar dan kemudian diam. Diam yang diam. Aku menunggu musim rontok yang sunyi. Daun-daun minta dihitung sebagai tasbih.” (Zamawi dalam Cerita dari Selatan)
Seperti pagi-pagi kemarin, hari ini cahaya matahari tidak semuanya jatuh ke tanah. Tertahan oleh rimbun daun kamboja, akasia, beringin dan beberapa kelapa yang seperti terpaksa tumbuh di atas bukit ini. Daun-daun kering jatuh bertumpuk di sekitar makam. Segelas susu coklat kental menjadi teman, selain kicau burung-burung yang mulai meninggalkan sarang.
Sepengal sajak Zamawi tersebut menjadi karib menikmati riuhnya pagi dan kerasnya suara deburan ombak Parangtritis. Jauh di bawah sana, dan mungkin berjarak sekitar 2 km ke arah selatan, membentang segara kidul yang berujung pada khatulistiwa tanpa batas. Ada takjub sekaligus sayang pada menit itu, berharap waktu berhenti berdetak meski sekejap. Agar bisa kurasakan dengan khidmat, suara deburan ombak yang memecah karang, mengisi kekosongan ini.
Kami tiba di tempat ini semalam sebelumnya. Entah mengapa tiba-tiba saja kami ingin menginap, menghabiskan malam yang berat. Saat itu angin berhembus sangat kuat, kurasa sedang ada badai besar yang berhembus dari pantai. Pohon-pohon melengkung, sesekali suara batang pohon patah. Namun tidak bagi semangat kami. Doa khusyuk terus kami panjatkan jauh dalam kalbu masing-masing. Kurasakan seperti ada harmoni gaib yang sinkron dengan nada-nada dalam batin kami. Setiap angin yang menderu, makin lama makin padu dengan nafas kami.
Suara hewan memberitahu kami, bahwa kami tidak sendiri. Di dalam alang-alang dan jauh masuk ke dalam hutan, mungkin telah siaga hewan-hewan nocturnal. Di samping kami adalah sebuah makam dengan kijing warna putih, dibawah nisan bermarmer putih kecoklatan. Itulah alasan kami untuk berziarah ke bukit ini, sekaligus mengungsi pada keheningan setelah bergelut dengan segala kebisingan. Bergantian kami jaga lilin yang berada di bawah nisan, agar tidak padam. Semakin diam aku pada kesunyatan, semakin bisa kurasakan kenikmatan yang luar biasa. Sungguh pengalaman spiritual yang sulit dikatakan dengan kata-kata.
Aku teringat kembali dengan sajak-sajak Zamawi yang berjudul Refrein Sabar. (maaf jika aku kutip secara serampangan)
...
Tuhan telah menepati janjinya
Tanpa ditagih
Oleh doa-doa puitis
...
Makin larut, angin makin membadai mengkoyak-koyak gubuk kecil ini. Gubuk yang berada di atas bukit ini, bukanlah tandingan yang seimbang bagi badai besar yang tengah mengamuk. Tapi gubuk yang memayungi sebuah makam ini, seperti telah biasa menghadapi segala amarah alam. Badai kali ini, seperti gambaran amarah Nyai Roro Kidul yang sedang murka. Sedangkan di atas bukit ini, bersemayam seorang penasehat spiritual raja-raja Mataram, yang mencoba meredam gemuruh hati penguasa pantai selatan.
Di tempat ini segala kegundahan dan kegelisahan akan pencarian, seakan luruh mengabu dalam tempayan merah yang berisi batang-batang shio. Segala doa terlebur menjelma daun-daun yang menunggu gugur. Ada perasaan haru, namun juga menyisakan perasaan yang tak pernah selesai. Seperti sebuah puzzle, menunggu segera dirangkai. Di atas sebuah bukit dengan beberapa teman dan sebuah makam, serta jauh dari gemerlapnya jalan-jalan di kota, bisa kurasakan tentang apa itu kota Yogyakarta.
Ada secarik cerita yang kunikmati dalam segelas susu coklat. Dengan beberapa bait sajaknya Zamawi tentunya. Pelan-pelan kurangkum dan kucerna segala kisah, kebahagiaan sekaligus getir dari setiap daun yang luruh. Seorang wanita setengah baya mencoba membuat hatinya seluas samudera, menyilakan bagi siapapun untuk mengukir kegelisahan. Meski hanya seorang juru makam, dia sepertinya paham dan sadar dalam menjalani hidup sebagai orang Jawa.
Sayang, pagi terlalu cepat merambat ke atas punggung bukit. Kami pun berpamitan pada bu Retno, untuk turun, kembali ke Jogja yang megah dan mulai kurang bersahaja. Setelah membersihkan badan di sebuah tuk kecil yang berair jernih, dan berbenah, kami mulai menuruni undakan beton yang melingkar-lingkar melewati sawah serta beberapa petani yang ramah menyapa. Di atas, dengan diam dan mulai terlupakan oleh siapaun, bersemayam seseorang yang membuat besar kerajaan Mataram Islam. Sekali lagi kupandangi puncak bukit ini, berharap doaku menjelma sebagai daun.
...
Memang ada yang belum selesai
Kapas atau kasih
Kecuali mendung telah bercerai
Pada detik yang perih
Gerimis Meruncing di Perempatan Penuh Nujum
Thursday, November 27, 2008Hendak kumaknai sendiri, tentang gerimis yang jatuh menggoyangkan daun, membuat kilau pada tiang listrik, pada aspal yang tiba-tiba berubah menjadi jalan-jalan penuh kenangan. Tentang mendung yang mengabarkan kesedihan. Senja yang terkurung pada buramnya awan yang masih saja menyemburkan sisa-sisa hujan,
Jogja memudar dalam pandangan. Jalan-jalan kemudian berubah jadi sepi. Brigjen Katamso kembali pada masa, dimana onthel dan andong lalu lalang. Orang-orang berjalan menggunakan celana selutut dan topi ala kompeni.
Di pojok benteng aku terhenti. Bukan karena lampu di jalan berubah merah, tapi kenangan itu kutemukan di sudut langit jogja, sebuah arus listrik berupa kilat-kilat cahaya dan warna yang agak menghitam. Hari-hari yang tanggal, terkubur, seperti waktu yang tiba-tiba berhenti lalu jarum-jarum berputar kearah kiri. Wajah-wajah penuh senyum. Cuaca yang selalu mendung, kadang gerimis dan sinar matahari yang tak pernah menyentuh aspal karena pohon-pohon yang berderet sepanjang jalan.
Aku turun dari motorku. Lalu duduk di trotoar depan sebuah tembok putih yang kokoh dengan beberapa lubang yang konon digunakan untuk moncong bedil. Tembok ini menyeretku pada Jogja dahulu. Menebak-nebak apakah ada yang sedang melihat mendung yang sama, melihat kenangan yang sama, duduk di tempat yang sama dan merasakan rintik gerimis yang sama pula.
Air-air yang jatuh indah bagaikan butiran mutiara. Papan reklame dan tiang-tiang lampu kota yang bercat hijau tua seakan mengguratkan seulas senyum. Aku pikir, inilah hari dimana aku mendapat hadiah dari Tuhan. Sudah sekian lama aku kost dan jadi mahasiswa di Jogja, kuliah di kampus unggu, dengan dosen-dosen seperti patung yang hanya bibirnya saja bergerak-gerak. Hari ini aku seperti dibukakan kembali mataku oleh Tuhan, aku mendapat kesempatan untuk melihat Jogja kedua kali dengan sudut yang berbeda.
Tubuhku sudah basah, pakaian dan celana kuyub. Kulihat lampu-lampu jalanan mulai menyala. Pendar kekuning-kuningan bagaikan kunang-kunang di tengah kabut gunung. Gerimis makin membasahi aspal, dan membentuk embun-embun yang lembut. Kebetulan ada warung angkring tidak jauh dari aku duduk. Aku memesan susu jahe panas, dan membakar sebatang rokok kretek.
Di Jogja, hidup seperti larut dalam melankolia aneh, namun memabukkan. Seperti kata-kata yang pernah diungkapkan Ragil dalam puisinya, “Yogyakarta Ngungun, hanyut dalam tangis, dalam gerimis. Angin senjakala mengibarkan rambutnya, cerai-berai. Daun-daun beringin yang tidak lagi gondrong, sehabis dipotong, berdesir-desir seperti musik sepi, di tengah-tengah keramaian Sekaten”.
Di perempatan ini, aku berhenti dan mengenang dunia akademik yang kaku, membosankan, tidak humanis, terlampau bermoral positivistic, tidak (kurang) menghargai proses mahasiswanya, asu, kadal, telo dan selalu yang dibahas masalah uang dan bagaimana mendapatkan uang.
Diperempat yang konon menjadi titik paling mistik kota ini. Dimana Selatan adalah kekuasaan Ratu kidul dengan segara yang luas menghampar, di Barat adalah singgasana kahyangan tempat surgaloka. Di Utara, tahu sendiri, bagaimana kekuasaan Kyai Sapu Jagad yang disimbolkan dengan Gunung Merapi menjadi tiang imajiner yang menopang kota Jogja. Sedangkan di Timur, pintu gerbang kebijaksaan terbuka lebar. Melalui Gunung Lawu, semangat spiritual telah mempengaruhi para raja-raja Mataram hingga sekarang.
Bunyi kemerenceng kaleng bekas membangunkan lamunanku. Di depan lewat sebuah andong dengan kuda yang kekar, dan bunyi-bunyi yang membuat siapapun akan menenggok walau sebentar. Seorang kusir tua, dengan pakaian jawa dan membawa blangkon. Sekejap pula Jogja, berubah pada jalan-jalannya yang purba. Seperti sebuah seruling, angin mendesir menggoyang rumput-rumput liar yang basah. Dan menjadi hujan pisau dalam dada. Sipapun tak pernah membagi kenangan-kenangan mereka.
Masih di tengah padang gerimis yang makin lama makin meruncing, dan goresan-goresan tajam warna jingga, aku sendirian bercakap tentang nasib bersama angin. Tubuhku terasa hangat, setelah beberapa teguk susu jahe melewati kerongkongan, dan kusulut bara api dari dendam-dendam yang kukumpulkan dari kota ini. Ada misteri dalam lipatan waktu, yang hendak kubongkar dan kutemukan jawabannya.
Hari itu, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Hanya satu dua sepeda motor serta mobil bersicepat dengan malam. Sore makin merambat pelan menyusuri jalan-jalan di Jogja. Brigjen Katamso lenggang dalam pesona ribuan puisi yang menjelma dalam pedagang asongan, tukang tambal ban, took, papan-papan reklame, tiang listrik, lukisan mura di tembok-tembok jalanl, gembel-gembel yang terlelap, penjual angkring dan tentu saja gerimis yang turun kali ini.
Hendak kuziarahi sendiri waktu-waktuku. Sepanjang sudut jalan, dimana aku telah mengubur semua kenangan. Semua ketakutan. Kebahagiaan. Kegilaan. Kebersamaan sekaligus kesendirian. Seperti sebuah solitude yang ditulis Wan Anwar dalam puisinya:
Jarum jam enggan berputar. Enggan menghabiskan waktu. Kesendirian kian memanjang.
Jogja, November 2008
